Our Feeds

Tuesday, January 10, 2017

Tony

Peran Indonesia dalam Menciptakan Perdamaian di Ukraina

 
Indonesia kembali turut menggemakan perdamaian di Ukraina melalui Peringatan Hari Perdamaian Dunia yang dilakukan sekaligus dalam rangka memperingati 6 tahun pemasangan Gong Perdamaian Dunia (GPD) asal Indonesia di Park Mira (Taman Perdamaian) kota Kremenchuk, provinsi Poltava, 21 September 2016. Delegasi KBRI dipimpin oleh Kuasa Usaha a.i. KBRI Kyiv, Yusran Hadromi, didampingi oleh Norwin Anwar, Counsellor Fungsi Pensosbud, serta  5 orang mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Kyiv National University of Taras Shevchenko yang dikawal oleh Ima Normalia Kusmayanti, M.A., dosen BIPA bantuan dari Universitas Telkom Bandung, turut meramaikan rangkaian kegiatan perdamaian di kota Kremenchuk, Ukraina yang tergarap atas kerjasama Pemda Kremenchuk dan KBRI Kyiv.

Di kantor Walikota, pagi hari pukul 09.00, delegasi KBRI disambut oleh Walikota, Mr. Vitaliy Maletskiy dan selama 40 menit melakukan pertemuan dengan Walikota yang didampingi oleh para pejabat Pemda Kremenchuk, antara lain Wakil 1 Walikota, Mr. Volodymyr Pelipenko, Wakil 2 Walikota, Mr. Ruslan Protsenko, Wakil 3 Walikota, Mrs. Olga Ushanova, Kepala Komisi Pendidikan DPRD Kremenchuk, Mr. Gennadiy Moskalik, dan Direktur Kremenchuk Invest, Mr. Andriy Melnyk. Dalam pertemuan ini, Yusran Hadromi  atas nama KBRI menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Mr. Vitaliy Maletskiy sebagai Walikota Kremenchuk; menyampaikan terima kasih atas hubungan kerjasama dan persahabatan yang telah terjalin selama 15 tahun dan berharap kerjasama yang baik dapat terus berlanjut. Selanjutnya, KUAI RI menyampaikan juga rasa optimisnya terkait kerjasama ekonomi berkat kunjungan Presiden Ukraina Petro Poroshenko ke Indonesia awal Agustus 2016 lalu dan pemberian bebas visa kunjungan ke Indonesia dari pemerintah Indonesia. Sementara itu, Walikota menyampaikan terima kasihnya atas upaya-upaya yang telah dilakukan oleh KBRI dalam mendekatkan hubungan antara pemda dan rakyat Kremenchuk dengan Indonesia. Pertemuan diakhiri dengan pertukaran cendera mata dan foto bersama.

Upacara Peringatan 6 Tahun Pemasangan GPD asal Indonesia sekaligus Peringatan Hari Perdamaian Dunia berlangsung pada pukul 10.00 di Park Mira, rayon Avtozavodskiy, di mana GPD dipasang, diawali dengan parade perdamaian oleh masyarakat dan pelajar dari berbagai sekolah. Upacara dihadiri oleh delegasi KBRI, jajaran pejabat Pemda Kremenchuk, kaum veteran PD II dan sekitar 800 warga dan kalangan pelajar. Dalam pidatonya, KUAI RI, atas nama pemerintah RI menyampaikan terima kasih kepada pemda dan warga Kremenchuk atas hubungan persahabatan yang sudah lama terjalin dan mengharapkan agar GPD asal Indonesia dapat membawa kebahagiaan dan perdamaian bagi Ukraina, khususnya bagi masyarakat Kremenchuk. Sementara itu, Walikota Kremenchuk, Vitaliy Maletskiy dalam pidatonya menekankan pentingnya arti perdamaian saat ini khususnya bagi Ukraina yang saat ini sedang dilanda konflik bersenjata, serta menggariskan perlunya  belajar toleransi dari Indonesia.

Presentasi tentang Indonesia berlangsung pada pukul 14.00 bertempat di sekolah Litsey No. 4, dihadiri oleh 80 pelajar utusan dari berbagai sekolah di Kremenchuk dengan acara berupa penyerahan piagam penghargaan dari KBRI kepada pihak-pihak yang selama ini telah aktif meningkatkan hubungan kerjasama budaya dan pendidikan; presentasi sekilas tentang Indonesia; presentasi tentang program Darmasiswa oleh para mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Nasional Kyiv Taras Shevchenko para mantan peserta program Darmasiswa RI; quiz berhadiah tentang Indonesia dan diakhiri dengan pembagian kaos berlogo Indonesia kepada para peserta presentasi dan foto bersama.

Di awal kegiatan presentasi tersebut, KUAI RI menyampaikan piagam penghargaan KBRI kepada 6 (enam ) orang yang selama ini telah aktif bekerjasama dengan KBRI dalam menyebarkan tradisi dan budaya Indonesia dan atas keaktifannya meningkatkan hubungan kerjasama pendidikan antara Kremenchuk dengan KBRI, antara lain kepada Mr. Vitaliy Dobrunov/Direktur Taman Budaya "Park Mira" di mana GPD dipasang; Mr. Igor Protsko/Kepala Dept. Komisi Pendidikan DPRD Kremenchuk; Mrs. Lyubov Mikhailik/Direktur Litsey No.4, Mr. Sergiy Pavlenko/Guru,Kepala Pusat Diplomasi Anak-Anak Sekolah No. 26, Mrs. Tetyana Protsko/Guru,Kepala Pusat Diplomasi Anak-Anak Sekolah No. 4, Mrs. Tetyana Ostrovska/Guru, Kepala Pusat Diplomasi Diplomasi Anak-Anak Sekolah No. 20. (sumber)

Sunday, August 31, 2014

Tony

Keluarga Kecewa Polisi Tembak Buaya Pemangsa Dela

 
Keluarga Dela Handayani, korban yang diterkam buaya di Sungai Sangatta, Kutai Timur, Kaltim, Jumat (29/8), mengaku kecewa karena seorang petugas polisi menembak buaya pemangsa adiknya.

Menurut Samsuriana, kakak korban, keluarganya kecewa dan kesal juga, karena adiknya itu sudah kelihatan akan dikembalikan buaya, namun karena seorang polisi menembaknya makanya satwa itu menghilang lagi.

"Buaya itu kelihatan akan mengembalikan saya, tapi tiba-tiba polisi menembak, makanya buaya menghilang lagi membawa korban," kata Samsuriana di rumahnya orang tuanya, Sabtu.

Dikatakan Samsuriana, dirinya melihat betul polisi berdiri di pinggir sungai mengarahkan senjatanya ke buaya yang menerkam Dela Handayani, adiknya itu.

Waktu polisi membidik buaya, Samsuariana saya lihat betul. Setelah ditembak tidak kena juga, bahkan buaya itu menghilang membawa adiknya.

"Makanya pawang marah betul buaya ditembak menggunakan senjata api," katanya.

Hal senada juga dikatakan ayah korban, Samsuddin, bahwa ada polisi menembak buaya pemangsa anaknya tersebut.

Seperti dilaporkan, Dela Handayani, 26 tahun, anggota Secutiry PT Nawaraka Perkasa Nusantara, sebuah perusahaan kontraktor pada tambang batubara PT Kaltim Prima Coal (KPC) di Kutai Timur Kalimantan Timur, tewas diterkam buaya, Jumat (29/8).

Korban Dela Handayani yang tinggal bersama kedua orang tuanya di RT 37 Mujur Jaya Sangatta Utara, disambar buaya berukuran besar saat memperbaiki pipa dan pompa air di pinggir Sungai Sangatta, sekitar 50 meter dari rumahnya.

Kapolres Kutai Timur AKBP Edgard Diponegoro yang dikonfirmasi melalui ponsel pribadinya, tidak dapat dihubungi. (antara)

Sunday, August 24, 2014

Tony

Perkebunan Jeruk Karo Terluas Di Indonesia

 
Tanaman jeruk di daerah Karo merupakan terluas di Indonesia dan bahkan potensinya mencapai triliunan rupiah, tepatnya Rp1,2 triliun hingga 1,5 triliun sekali panen yang dapat diraih dari lahan produktif 12.000-13.000 hektar.

Sedangkan lahan jeruk di Karo mencapai 14.008 hektar, namun hampir 9.702,4 hektar terancam punah akibat lalat buah.

"Potensi jeruk yang besar itu perlu diselamatkan dari serangan hama lalat buah," kata Dr Ir Hasanuddin Ibrahim, Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) RI kepada wartawan usai melakukan pencanangan 'Gerakan Nasional Pengendalian Lalat Buah' di Desa Tanjung Barus, Kecamatan Barusjahe, Karo Rabu (13/2) siang.

Acara itu dihadiri Direktur Perlindungan Tanaman Susilo, anggota DPR RI Anton Sihombing, anggota DPD utusan Sumut Parlindungan Purba, Kadis Pertanian Sumut M Roem, Plt Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura I Medan (BPTPH) Bahrudin Siregar, Kepala Balai Penelitian Tanaman Pertanian (BPTP) Sumut Ali Jamil, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Karo Antoni Tarigan, tokoh masyarakat dan petani jeruk di Karo.

Dirjen Hasanuddin Ibrahim mengatakan selain jeruk Karo terluas di Indonesia, rasanya juga lebih enak dan manis sehingga jeruk daerah ini juga terkenal dengan jaruk siam madu. Jika dihitung kasar, kata Hasanuddin, lahan jeruk produktif di Karo sekira 12.000 hektar dengan produktivitas rata-rata 10 ton hektar maka ada sekira 120.000 ton jeruk. Harga di Karo sekira Rp6.000 per kg saja maka mampu meraih pendapatan sekira Rp700 miliar.

Jika harga jual di Medan sekira Rp15.000 per kg, jeruk Karo berpotensi meraih pendapatan sekira Rp1,5 triliun. Berarti sekarang harga yang diterima petani masih separoh dari harga jual di pasaran. Jadi perlu diperhatikan bagaimana petani dapat menjual langsung ke pasaran tanpa melalui agen pengumpul.

Ia menyebutkan jeruk lokal harus diperhatikan mengingat impor jeruk sudah mencapai Rp 4 triliun. Apalagi masa Imlek sekarang, warga keturunan Tionghoa menyukai jeruk madu yang kuning bersih.

Tahun 2012, katanya kebutuhan jeruk nasional sekira 2,5 juta ton, total produksi nasional hanya sekiar 1,2 juta ton, sudah termasuk produksi dari Sumut. Berarti kebutuhan jeruk masih kurang sekira 500.000 ton lagi makanya harus diimpor dari luar negeri.

Pencanganan pengendalian lalat buah diawali dengan Dirjen Hasanuddin Ibrahim meletakkan alat perangkap lalat ke dahan tanaman jeruk. Alat itu berisi cairan Metyl Eugenol Block ditambah dengan air bekas cucian ke dalam satu kantong terbuat dari plastik. Peletakan alat perangkap itu juga diikuti oleh pejabat yang hadir di sana.

Alat perangkap lalat buat terbuat dari plastik bisa tahan hingga 1,5 tahun dengan harga Rp25.000 per buah ditambah cair ME Block Rp15.000. Namun alat tersebut bisa diganti dengan kemasan botol plastik sehingga patani dapat berhemat. Untuk satu hektar, alat perangkap diletakkan di 10 titik.

ME Block mengeluarkan bau harum yang merangsang lalat jantan untuk mendatanginya dan kemudian lalat tersebut terperangkap di dalamnya. Lalat buah sudah hampir memusnahkan lahan jeruk 9.702,4 hektar dari total 14.008 hektar di Tanah Karo. Ada 100.000 antraktan ME Block yang ditarok di tanaman jeruk di Karo.

Dirjen juga minta Pemda sepempat membuat Perda pengendalian organisme Pengganggu Tanaman (OPT) tanaman jeruk. Menjawab pertanyaan petani tentang kredit perbankan, Dirjen mendukung petani juga hendaknya mendapat kredit ketahanan pangan (KKP) dan infrastruktur harus diperbaiki untuk kelancaran distribusi hasil panen.

Soal penyuluh pertanian, Dirjen berjanji akan membicarakan bagaimana Penyuluh kontrak tersebut bisa menjadi PNS. Menurut Dirjen, jeruk siam madu yang paling banyak tumbuh di Kabupaten Karo merupakan aset nasional. Namun jeruk tersebut di luar Sumatera Utara lebih dikenal dengan nama jeruk Medan yang distribusinya meluas ke seluruh Sumatera, Jawa, Bali Papua, hingga pasaran ekspor dan keberadaannya sepanjang tahun terus berbuah.

Belakangan Dirjen menilai jeruk siam madu Medan ini mengalami keterpurukan akibat serangan buah. Padahal, sejak 2004 hingga sekarang, pemerintah tidak pernah absen dalam memberikan perhatian untuk mengendalikan baik dalam bentuk dukungan anggaran dari pusat maupun penerapan teknologi tepat guna yang bisa diterapkan oleh petani di ladangnya.

Tahun ini, pemerintah pusat menganggarkan untuk komoditas horti mencapai Rp800 miliar dan akan digunakan untuk pengembangan tanaman hortikultura di seluruh Indonesia. Anggaran tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Misalnya untuk pengembangan jeruk, tidak hanya di Karo yang lahannya mencapai 12.000-14.000 hektar tapi juga di Dairi dan Simalungun atau daerah lain yang punya komoditas hortikultura.

Menurut anggota DPR RI, Anton Sihombing, anggaran pemerintah pusat untuk sektor pertanian lebih dari Rp19,87 triliun. Angka itu terus mengalami kenaikan dimana tahun 2004 sebesar Rp3,1 trilun dan tahun 2009 sekira Rp7 triliun. Besarnya anggaran tersebut merupakan keharusan sebagai upaya dukungan pada sektor pertanian.

Anton Sihombing menilai, ada perbedaan antara Indonesia dengan negara lain seperti Vietnam ataupun Thailand yang mana di dua negara tersebut subsidi bukan diberikan pada pupuk dan bibit namun pada teknologi dan harga patokan sehingga ada kestabilan harga yang bisa menguntungkan petani.

Sementara itu, anggota DPD RI Parlindungan Purba, melihat kontribusi sektor pertanian yang sangat besar, seharusnya petani bisa memperoleh penghasilan dari profesinya. Selama ini, lanjutnya, keuntungan lebih besar justu dinikmati oleh pedagang.
Kepala Dinas Pertanian SUmatera Utara, M Roem menjelaskan, tahun 2010 - 2012 produksi jeruk Sumut mengalami penurunan produksi hingga 60 persen. Faktor penyebabnya antara lain serangan lalat buah dan perubahan iklim. Sehingga dalam pengendaliannya, harus serentak, tidak boleh terpisah-pisah.

Kalau ada jeruk yang jatuh ke tanah, langsung ditanam supaya tidak merangsang lalat untuk mendatangi pohon jeruk tersebut. Anggaran untuk sektor pertanian di Sumut lima tahun lalu sebesar Rp5 miliar, tahun 2013 ini mencapai Rp230 miliar. Kenaikan ini membuktikan kalau pemerintah mendukung perkembangan pertanian di Sumut.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Karo Antoni Tarigan menerangkan dengan luasan lahan jeruk mencapai 14.000 hektar. Di tahun 2013 ini, Kabupaten Karo berencana untuk melakukan peremajaan tanaman yang sudah berusia tua dengan anggaran mencapai Rp 5 miliar dan dalam pelaksanaannya akan dilakukan tender mengingat besarnya nilai. (beritasore)
Tony

Potensi Pertanian di Tanah Karo

 
Tanah Karo memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa, mulai dari sektor alam sampai ke pertaniannya. Sektor pertanian yang paling menonjol di daerah tersebut dan sangat bagus untuk dikembangkan. Hasil sayuran dan buah merupakan hasil pertanian yang sangat sering dihasilkan di Tanah Karo. 

Banyak hasil pertanian ini dikirim ke berbagai daerah seperti ke Aceh dan bahkan sampai ke Jakarta. Akan tetapi, sektor ini masih memiliki banyak kendala, terutama para petani itu sendiri. Sebagai contoh banyak petani yang belum mengerti cara penggunaan lahan secara efisien dan cara penanaman dengan baik.

Selengkapnya lihat di sini
Tony

Bukit Kubu Berastagi Dipadati Pengunjung

 
Dipenghujung Idul Fitri 1435 Hijriyah, ratusan pegunjung memadati tempat rekreasi Bukit Kubu di Kota Berastagi, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.

Pemantauan Antara di Kota Berastagi, Rabu (30/7), warga yang meramaikan lokasi wisata yang penuh dengan hamparan rumput hijau tersebut, bukan hanya dari Kota Kabanjahe, tetapi juga Medan, Binjai, Pematang Siantar, Langkat, juga dari Aceh, Pekanbaru, Jakarta, Bandung dan daerah lainnya di tanah air.

Para pengunjung maupun tamu -tamu yang berasal dari Pulau Sumatera dan PUlau Jawa itu, karena mereka sedang mudik dan merayakan hari Lebaran di Medan.

Selanjutnya, pengunjung tersebut meluangkan waktu untuk mengunjungi Bukit Kubu yang lokasinya berada di pinggir jalan menuju Kota Berastagi atau berjarak lebih kurang 80 Km dari Kota Medan.

Bukit Kubu itu, persis berada di daerah perbukitan atau pengunungan yang dipenuhi dengan pohon penghijauan dan berbagai jenis tanaman bunga hias yang cukup indah.

Selain itu, keindahan yang dimiliki Bukit Kubu adalah pemandangan rumput hijau yang cukup luas dan juga lapangan golf seluas lebih kurang lima hektare.

Bukit Kubu juga dikenal memiliki nilai sejarah pada masa perjuangan tempo dulu dan di lokasi tersebut juga terdapat sebuah hotel tua yang dibangun sejak tahun 1939.

Pengunjung juga banyak yang menginap di Hotel BUkit Kubu tersebut dengan biaya murah dan ekonomis, serta tidak terlalu mahal.

Para tamu yang berkunjung ke Bukit Kubu,juga memanfaatkan pemandangan fenomena alam di daerah itu, tempat berkumpul atau silaturahim bersama keluarga.

Bahkan, derasnya angin yang bertiup pada sore hari di lokasi rekreasi Bukit Kubu itu, dimanfaatkan para pengunjung dengan bermain layangan dan kegiatan lainnya yang positif.

Sebahagian anak-anak bawah lima tahun (Balita) juga kelihatan bermain bola plastik di hamparan rumput yang menghijaui dan asri tersebut.

Rekreasi lainnya yang ada daerah tersebut adalah naik sado (delman) dari kawasan Bukit Kubu dan turun ke bawah untuk melihat taman bunga dan rumah-rumah penduduk yang ada di Kota Berastagi.

Biaya naik kuda milik warga itu, para pengunjung harus menyediakan uang sebesar Rp 40.000 untuk membawa dua atau tiga orang penumpang.

Salah seorang pemilik kuda bermarga Perangin-angin mengatakan, sejak H+1 Lebaran hingga H+3 hari ini (Rabu, 30/7) pengunjung yang datang ke Bukit Kubu cukup padat.

"Tamu-tamu dari berbagai daerah berkunjung ke Bukit Kubu untuk menikmati pemandangan alam dan udaranya yang segar," ujarnya. (SP)
Tony

Foto Unik: Orang Karo Berpeci dan Bersarung

 
Sebuah foto di blog ini (klik) menunjukkan sesuatu yang unik dari masyarakat Karo tempo dulu.

Di satu pihak ada yang memakai sarung ada juga yang mengenakan peci yang panjang ke atas.

Pakah peci itu khas Karo dan apakah dilestarikan sampai sekarang? sejarah akan menggalinya.
Tony

Tarian Karo Berjubah

 
Sebuah foto menjelaskan ribuan bahasa. Di sebuah blog (klik di sini) terlihat para penari Karo memperagakan sesuatu dengan mengenakan jubah merah dan putih.


Apakah makna gerangan jubah itu? unexplainable.